Pernahkah Anda membuka buku yang sudah berusia puluhan tahun lalu mendapati halaman-halamannya berubah menjadi kuning atau kecokelatan? Kondisi ini sangat umum terjadi, baik pada buku pelajaran, novel lama, surat kabar, maupun dokumen yang telah disimpan dalam waktu lama.
Banyak orang mengira perubahan warna tersebut disebabkan oleh debu atau usia buku semata. Padahal, ada proses ilmiah yang terjadi pada serat kertas sehingga warnanya perlahan berubah seiring berjalannya waktu.
Kertas Terbuat dari Serat Kayu
Sebagian besar kertas dibuat dari serat kayu yang mengandung dua komponen utama, yaitu selulosa dan lignin.
Selulosa merupakan serat yang memberikan kekuatan pada kertas, sedangkan lignin berfungsi sebagai perekat alami yang menyatukan serat kayu. Pada proses pembuatan kertas, sebagian lignin memang dihilangkan, tetapi tidak seluruhnya.
Sisa lignin inilah yang menjadi salah satu penyebab utama perubahan warna pada kertas.
Proses Oksidasi Membuat Kertas Menguning
Ketika kertas terus-menerus terkena udara, cahaya, dan panas, lignin akan mengalami proses yang disebut oksidasi.
Proses ini menghasilkan senyawa baru yang mampu menyerap cahaya biru sehingga permukaan kertas terlihat semakin kuning atau kecokelatan.
Semakin lama usia kertas, proses oksidasi akan terus berlangsung sehingga perubahan warna menjadi semakin jelas.
Paparan Sinar Matahari Mempercepat Perubahan Warna
Sinar ultraviolet (UV) merupakan salah satu faktor yang mempercepat proses menguningnya kertas.
Itulah sebabnya buku yang sering terkena sinar matahari langsung biasanya lebih cepat berubah warna dibanding buku yang disimpan di tempat teduh.
Selain mengubah warna, sinar UV juga dapat membuat serat kertas menjadi lebih rapuh.
Kelembapan Juga Berpengaruh
Lingkungan dengan kelembapan tinggi dapat mempercepat kerusakan kertas.
Udara yang lembap memicu reaksi kimia yang lebih cepat, sekaligus meningkatkan risiko tumbuhnya jamur pada permukaan buku. Karena itu, perpustakaan dan museum biasanya menjaga suhu serta kelembapan ruangan agar koleksi buku tetap awet.
Mengapa Buku Lama Lebih Cepat Menguning?
Buku yang dicetak puluhan tahun lalu umumnya menggunakan kertas dengan kandungan lignin yang lebih tinggi dibanding beberapa jenis kertas modern.
Pada masa itu, proses pemurnian pulp belum secanggih sekarang sehingga lebih banyak lignin yang tertinggal di dalam kertas.
Akibatnya, buku-buku lama cenderung lebih cepat mengalami perubahan warna dibanding buku yang dicetak menggunakan kertas berkualitas tinggi.
Apakah Semua Kertas Akan Menguning?
Hampir semua jenis kertas akan mengalami perubahan warna apabila disimpan dalam waktu yang sangat lama.
Namun, kecepatannya berbeda-beda tergantung kualitas bahan baku, proses produksi, kandungan lignin, serta kondisi penyimpanan.
Kertas arsip (archival paper) atau kertas bebas asam (acid-free paper) biasanya mampu bertahan lebih lama karena dirancang untuk mengurangi proses degradasi.
Cara Mencegah Buku Cepat Menguning
Meskipun tidak bisa dihentikan sepenuhnya, proses menguningnya kertas dapat diperlambat dengan beberapa cara:
- Simpan buku di tempat yang sejuk dan kering.
- Hindari paparan sinar matahari secara langsung.
- Jaga kelembapan ruangan agar tidak terlalu tinggi.
- Gunakan rak tertutup untuk mengurangi debu dan cahaya.
- Hindari menyimpan buku di loteng, garasi, atau tempat yang mudah mengalami perubahan suhu ekstrem.
Dengan penyimpanan yang baik, kondisi buku dapat tetap terjaga selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Perubahan warna pada buku lama sebenarnya merupakan proses alami yang terjadi akibat reaksi kimia pada serat kertas. Kandungan lignin, paparan oksigen, cahaya matahari, suhu, dan kelembapan menjadi faktor utama yang menyebabkan halaman buku perlahan berubah menjadi kuning.
Meskipun terlihat sebagai tanda penuaan, perubahan warna tersebut tidak selalu berarti buku sudah rusak. Dengan penyimpanan yang tepat, kualitas kertas masih dapat dipertahankan sehingga buku tetap nyaman dibaca dalam waktu yang sangat lama.


